Pejabat Wajib Berbasa Sunda

09:40 | 19 Jun, 2012 | Rubrik: Editorial | Penulis:

Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat No. 5, 6 dan 7 tahun 2003 telah menetapkan pelestarian basa, aksara dan sastera Sunda, seni dan budaya Sunda serta Kepurbakalaan yang dimaksudkan untuk tetap terpeliharanya basa, seni dan kepurbakalaan Sunda sehingga dapat diwariskan kepada generasi penerus agar tidak kehilangan jati diri.

Perda Provinsi itu sebenarnya telah berusia 9 tahun sejak disahkannya, tetapi kenyataannya belum berjalan sebagaimana mestinya. Padahal, jika pada setiap acara resmi lebih dikenalkan dan digunakan khususnya jika memberi sambutan alangkah baiknya menggunakan basa Sunda. Tidak salah sih menggunakan bahasa nasional, karena itu pun bahasa kita sendiri.

Tetapi Perda yang sudah disahkan itu, seharusnya dilaksanakan dalam pergaulan sehari-hari sebagai alat komunikasi di masyarakat. Demikian halnya dengan seni budaya, tetap dipelihara dengan lebih banyak lagi pagelaran seni budaya sendiri.

Begitu pula dengan disahkannya Rancangan Perda di Kota Bandung menjadi Perda, telah disepakati pertama-tama dilaksanakan secara bertahap setiap hari Rabu oleh para pejabat di Pemerintahan Kota Bandung. Pada hari itu, setiap pejabat di Pemerintahan Kota Bandung wajib menggunakan basa Sunda dalam berkomunikasi di kantor. Peraturan Walikotanya juga segera dibuat.

Tahapan ini patut menjadi teladan dan diharapkan kelak setiap hari para pejabat dan masyarakat dalam berkomunikasi menggunakan basa Sunda. Generasi penerusnya juga patut menggunakan basa Sunda, di masyarakat dan rumah. Melalui tahapan itu, diharapkan ciciren bangsa selain dapat terpelihara juga memiliki kebanggaan tersendiri.

Malah, Walikota Bandung, H. Dada Rosada, SH, MM memiliki harapan melalui Perda itu juga harus ada ciciren bangsa dengan memberi nama sesuatu usaha menggunakan basa atau aksara Sunda. Volume berkesenian Sunda juga perlu ditambah. Jika itu terlaksanakan, ciciren bangsa akan lebih nampak.

Demikian halnya dengan pendapat Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat Drs. Nunung Sobari MM yang mengharapkan di setiap obyek wisata, tempat hiburan lainnya dan nama-nama jalan juga menggunakan aksara Sunda. Pendapat ini sangat relevan, karena jika wisatawan dalam mengisi liburannya di Jawa Barat akan merasa benar-benar ada di Jawa Barat.

Volume pagelaran seni budaya Sunda juga perlu diperbanyak di setiap obyek wisata atau tempat hiburan. Dengan upaya itu, seni budaya Sunda akan tetap dikenal dan dikenang oleh generasi penerusnya. Mereka pun tidak akan kehilangan jati diri. Ini karena di setiap jenjang pendidikan formal, walau dalam bentuk muatan lokal, pengajaran basa Sunda masih ada.

Hanya tentu saja pengajaran basa Sunda dalam bentuk muatan lokal, perlu ditambah jam pelajarannya. Dari dua jam pelajaran ‘a 35 menit, misalnya menjadi 3 jam pelajaran. Jangan lupa pula tenaga pendidik pengajaran basa Sunda yang berpendidikan guru basa Sunda lulusan perguruan tinggi, jangan diabaikan.***

Infowisata :
bjb